Rabu, 17 September 2014

BBM oh BBM

Halaman 8

Sepi dan hening. Bang Andre udah gak bareng gue lagi. Kali ini gue berjalan sendiri. Memacu motor menyusuri ruas jalan yang gue gak tahu bagaimana situasi di depan sana. Jujur gue masih was-was. Ngeri jalan sendirian. Takut diperkosa gajah mamoth. Pikiran gue kembali bertanya-tanya. Apa gue sanggup? Apa enggak apa-apa? Apa tindakan gue ini tidak menyalahi aturan? Apa tidak terlalu berlebihan jalan dengan motor nyaris bobrok? Bahkan dengan uang yang sudah dipastikan sekarat. Dan di mana gue akan tinggal selanjutnya? Manusia-manusia seperti apa yang akan gue temui selanjutnya? Kota-kota seperti apa lagi yang ada di depan nanti? Apa Agnes Mo masih mikirin gue? Pertanyaan-pertanyaan itu terus melayang-layang di atas kepala gue. Tapi, bukannya ini kemauan gue sendiri? bukan dari paksaan orang lain. Bukannya gue sudah memutuskan meninggalkan semua kenyamanan di rumah, dan pergi ke tempat yang gue sendiri gak tau aman apa enggaknya? Kenapa gue jadi ragu begini. Ahk sudahlah, sudah terlambat untuk kembali pulang. Sudah terlalu jauh untuk balik membanting stir. Berdoa saja lah!

Selamat datang di Kabupaten Bengkulu Selatan, kabupaten ke-7 di Sumatera. Daerah pertama di kabupaten seluas 1.185,70 km2 ini adalah Kecamatan Kedurang Ilir. Bensin sudah hampir habis, indikator bensin di kepala motor hanya meninggalkan satu garis. Gue berharap di Kota Manna nanti ada sebuah SPBU untuk menyambung hidup si motor.

Dengan menempuh jarak 25 km dari perbatasan kabupaten, sampailah gue di Kota Manna, ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan. Jarak yang sudah gue tempuh dari Krui sekitar 200 km. Indikator bensin sudah berkedip-kedip dari tadi. Hebatnya, ternyata SPBU di Manaa bertuliskan "Bensin Habis". SPBU sebelumnya di Bintuhan (Ibukota kabupaten Kaur) pun juga bernasib serupa. Anjirrr!!! Susahnya mendapatkan bensin di Sumatera. Beda banget dengan di Jawa yang SPBUnya udah kayak kulit kacang, berserakan di mana-mana dengan stock bejibun alias berlimpah ruah.

Susahnya dapetin "bensin halal" (dibaca bensin dari SPBU). Anehnya banyak tukang eceran yang berjualan tepat di depan SPBU. Parah beud!! Jangan-jangan bensinnya diborong semua sama mereka-tukang pengecer. Gak tau apa, kalau gue lagi butuh. Masa harus beli di eceran? Mahal pula. Ember, mahal banget!!! Satu liternya bisa sampai 8000, bahkan lebih. Kalo gue beli di SPBU cuma 4500 perak. Plis dong, jangan serakah!!! Jangan menguntungkan diri sendiri. Tau diri lah, ada yang lebih berhak mendapatkannya (maki-maki pager SPBU).

Yasudahlah, daripada ngedumel gak jelas, mending gue lanjut jalan. Kota Manna ternyata lumayan ramai. Walaupun luasnya cuma 30 km², tapi banyak orang ber-seliwer-an di sini. Di pasar pun demikian. Orang-orang sibuk masuk keluar toko, mobil-mobil dari yang kecil sampai besar melewati jalanan aspal. Mungkin karena adanya jalan lintas menuju ke Pagaralam dan Lahat, Sumatera Selatan, menjadikan kota ini selalu ramai dikunjungi ataupun hanya sekedar lewat.

Sesampainya di Manna, gue malah agak sedikit bingung. Bukan karena gak bisa ngisi BBM, tapi melihat jam tangan masih sekitar pukul 17.00 WIB. Langit pun masih nampak terang. Gue jadi bingung mau nginep apa lanjut. Kalau nginep, di mana? SPBU di sini pada tutup, gak bisa dijadiin tempat tidur. Masjid pun pintunya gak buka 24 jam. Nginep di hotel? Lupakan saja (dibaca gak sanggup bayar). Setelah berpikir, akhirnya gue putuskan untuk melanjutkan perjalanan, toh matahari pun belum "pulang" dari pekerjaannya menyinari bumi. Gas terooos!!!

Ketika sedang berpacu dengan waktu, tiba-tiba, di perjalanan si motor mati. Aish, kehabisan bensin. Untung masih ada bensin cadangan dalam jerigen. Cuaca mulai gerimis. Beberapa detik kemudian hujan. Gue segera dorong si motor ke depan warung yang sudah ditutup oleh pemiliknya. Gak mungkin kan ngisi tangki bensin di tengah derasnya hujan? Gak semua bensin gue tuang ke dalam tangki. Gue sisakan untuk jaga-jaga bila nanti si motor mati dalam keadaan darurat. Misalnya tiba-tiba si motor mati di tengah hutan atau bisa jadi mati mendadak di tengah-tengah kuburan dan ketemu hantu Suzana. Yang jadi pertanyaan, itu hantu Suzana kenapa bisa sampai Sumatera? 

Memasuki Kabupaten Seluma, tepatnya di kecamatan Semidang Alas Maras (22 km dari Manna), hari sudah mulai gelap. Ini yang gue takutkan. Gelapnya jalanan di Sumatera bikin merinding disco. Hutan semua. Dari hutan yang beneran hutan sampai hutan bohongan (dibaca kebun sawit). Indikator bensin juga sudah mulai genit, berkedip-kedip berharap diisi oleh pemiliknya.
Perasaan takut kembali hadir tanpa permisi. Takut mogok di jalan, takut dirampok, takut diculik, takut ketemu hantu, takut diperkosa bencong-bencongan yang udah bangkotan. Pikiran tersebut terus memborbardir hati gue yang lemah ini (perang kalee di bombardir!). Namun, gue teringat sesosok manusia. Seorang yang membuat gue bersemangat menjalani ini semua. Sebut saja "Mawar". Ehk, entar dulu! Bukan Mawar deng! Terlalu Mainstream kalau Mawar. Sebut saja "Si Odah". Pas gue sampe di Kota Manna, dia tiba-tiba mengirimkan pesan singkat gitu. Padahal jarang-jarang dia menghubungi gue.

"Yogiiiiiiiii!!"
"Apaa?" gue bales.
"Gila Lo, keren, bisa keliling Sumatera."
"Kok tau? tau darimana?" bales gue sepik-sepik.
"Gimana gak tau, orang Lo sering update status di Facebook."
"Oh iya yah, doain gue yak, hihihi." 
"Beneran stres Lo, Gi, tapi keren sumpah. Salut buat Lo. Lanjutkan terus." gue cuma tersenyum girang sampe mau guling-gulingan di aspal. Tapi untung gue masih punya malu untuk melakukan hal sehina itu. 

Entah kenapa setelah perbincangan melalui Hape itu, semangat gue terus memuncak melebihi pesawat terbang di angkasa. Berkobar melebihi obor olimpiade yang tak pernah padam #lebai.co.id. Perempuan itu selalu bisa membuat gue bangkit bagai tersambar petir semangat. Membuat gue selalu tersenyum sendiri, membuat makan cireng seperti makan aci yang digoreng (Ini beneran loh, gak boong, seriusan). Gue emang merahasiakan ini dari teman-teman semua. Termasuk perempuan itu, wanita yang selalu gue kagumi dari dulu, hihihi.

Wajah gue seketika berseri. Kali ini bukan karena Si Odah, tapi karena gue melihat sebuah plang berlambang Pom Bensin di sisi kiri jalan. Ini pertanda di depan bakalan ada SPBU. Senangnya minta ampun, seperti melihat toilet waktu di tengah gurun pasir pas kebelet berak. (SPBU sekitar kurang lebih 45 km dari Manna atau 23 km setelah perbatasan).

Akhirnya selamat. Si motor bisa menyambung hidup juga. SPBUnya masih buka dan banyak sekali orang yang mengantri, pertanda bensin masih ada. Gue segera masuk ke dalam antrian untuk mengisi BBM. Biar antriannya panjang yang penting selamat, bisa menyambung nyawa si motor. Namun, ternyata gue gak dibolehin ngisi bensin ke dalam jerigen. Katanya, "kalau jerigen isinya di sebelah sana Mas." Sambil menunjuk ke arah pojok SPBU. 
Emang sih di pojokan sana khusus untuk mengisi jerigen. Tapi gak sepanjang itu juga kaleesss antriannya!!! Anjriit!!! Antriannya lebih panjang. Udah gitu jerigennya gede-gede banget, berjejer panjang, dan banyak gila. Gak mungkin banget gue bela-belain antri semaleman hanya demi satu jerigen kecil yang ukurannya gak lebih dari 5 liter bensin doang. Yah, beginilah resikonya jalan pakai motor tipe bebek. Tangkinya kecil, gak selebar motor gede. Andai pabrikan paham, coba buat motor bebek dengan tangki segede drum. Tapi pasti bingung di mana masangnya? *mikir*.

Gue istirahat di musholah SPBU untuk solat Magrib. Melihat musholah ini membuat gue berpikir untuk merebahkan badan sampai esok hari. Letih seharian di atas motor. Gue buka roti pemberian temen gue Budi yang baik tiada terperi. Walaupun jarak kita jauh, namun dia tetap selalu mengisi kekosongan, terutama perut gue ini. Entah kenapa, setiap kita berdua jalan atau backpakeran kemana saja, pasti kita selalu ditemani dengan roti. Naik gunung pun demikian, untuk bertahan hidup selama pendakian kita hanya bermodalkan roti bungkus. Bukan apa-apa, karena kita emang males masak atau lebih tepatnya gak bisa masak. Gimana kabar teman gue yang satu itu yah? Mungkin dia sekarang sedang gundah gulanah melihat teman seperjuangannya lagi berpetualang sedangkan dia hanya diam di rumah sambil belajar dan bikin PR. Di tengah lamunan, tiba-tiba ada telepon dari saudara gue.

"Sudah sampai mana, Gi??"
"Lagi di SPBU kang. Tapi di daerah mana yah??" tanya gue kebingungan. 
Setelah menanyakan kepada orang di sekitar. "Di daerah Sendawar katanya, Kang. Kayaknya nginep di SPBU sini. Udah capek." jawab gue di telepon.
"Langsung aja ke Bengkulu, nginep di sini aja." Sodara gue emang ada yang tinggal di Bengkulu.
"Ah, sien lah Kang. Takut, gelap, serem pisan."
"AMAN KOK. Satu setengah jam lagi sampai," ucapnya tegas. 
Mendengar penjelasannya, gue langsung berubah pikiran. Gue langsung pergi ke Kota Bengkulu. Mudah-mudahan ucapan dia benar.

Roti yang masih tersisa, gue buru-buru habiskan dan langsung tancap gas menuju Kota Bengkulu. Di GPS pun berjarak sekitar 95 km untuk sampai di sana. Itu artinya jika kecepatan motor konstan di angka 60km/jam maka bisa menghabiskan waktu satu jam tigapuluh lima menit untuk sampai kota Bengkulu. Asal tau aja, semenjak jalan di Sumatera, mendadak gue jadi pinter hitung menghitung rumus Fisika tentang waktu dan jarak. Emang, pelajaran itu seharusnya dipraktekan, bukan hanya sekedar teori.

Oke saatnya berangcuuut. Tapi kok gelap banget yaks? Mudah-mudahan gak ada kuntilanak ataupun sebangsanya yang numpang nebeng pergi kelabing buat ajep-ajep.

Gue masih berada di daerah Tais ibukota Kabupaten Seluma (80 km dari Manna). Sepertinya gak ada habis-habisnya gue menelusuri kabupaten yang satu ini. Gue gak keluar-keluar juga dari kabupaten yang satu ini. Masih ada 60 km lagi untuk sampai di Kota Bengkulu. Kabupaten Seluma memang sangat panjang jika dilihat di peta, dengan luas wilayah 2.321,74 km2.
Sumpah serem pisan!! udah gelap, yang ada cuma kebun sawit dan kebun sawit. Dah gitu, laju motor gak bisa ngebut, paling cepet maksimal 50 km/jam, karena banyak banget jebakan BETMEN (dibaca lobang) yang siap menghadang di tengah gelapnya malam. Kadang, gue ikutin mobil dari belakang agar terhindar dari jebakan Betmen. Lumayan kan jadi penerang jalan. Tapi namanya juga mobil, jalannya cepet banget. Dan gue harus terperosok ke dalam lubang lagi ketika situasi kembali gelap. Dua jam sudah gue tempuh, tapi perjalanan masih saja sawitan. Sudah berapa kali balikan gue membaca Surat Kulhu a.k.a AL-Ikhlas namun belum juga sampai tujuan.

Setitik cahaya terang terlihat dari ujung jalan sana. Itu bukan cahaya dari mobil. Itu cahaya lampu rumah. Akhirnya gue bisa melihat peradaban juga. Betapa senang dan leganya gue. Rasanya itu udah kayak orang tersesat di dalam goa yang gelap gulita beratus-ratus tahun lamanya terus nemuin sinar yang ternyata tukang sekuteng yang lagi nyasar di goa juga #Yipi. Pas gue baca tulisan di salah satu plang, ternyata gue baru sampai daerah Pembangunan, Kecamatan Selebar, Kabupaten Seluma. Kecamatan terakhir sebelum sampai di Kota Bengkulu. Motor pun gue pacu dengan sepenuh hati.

Selasa, 16 September 2014

Teman dan Keluarga Baru

Halaman 7

Minggu, 09 Desember 2012
Pagi-pagi bang Andre mengajak gue berjalan kaki untuk melihat-lihat sekeliling kampung. Lumayan lah itung-itung olahraga sambil cuci mata, siapa tau bisa ketemu tukang jamu gendong cantik #Cetar. Langkah kaki kami terhenti di suatu pelabuhan kecil. Pelabuhan itu bernama Pelabuhan Krui. Orang-orang di sini sering menyebutnya Pelabuhan Kecil Padang. Namun sekarang pelabuhan ini sudah tidak beroperasi lagi, hanya dipakai para nelayan untuk menjual hasil tangkapannya.


Perahu-perahu di sekitar pelabuhan Krui

Bang Andre tau banget seluk beluk daerah ini, soalnya dia pernah lama tinggal di daerah pesisir dan beristrikan orang Pulau Pisang, sebuah pulau di depan Pelabuhan Krui. Dan ternyata pria berbadan buncit itu juga pernah menjadi perompak kapal waktu zaman muda dulu. Gak percaya sih awalnya. Mana mungkin badan "buncit semangka" kayak gitu jadi perompak. Tapi pas gue lihat fotonya waktu jaman brondong dulu yang berbadan tegap, atletis, dengan tato menghiasi badannya, baru gue percaya. Iya lah percaya, fotonya dah kayak Ali Topan Anak Bajingan, hahaha *Viss bang*. 


Sarapan sudah disiapkan oleh istrinya bang Dodi yang berambut panjang dan berkulit putih itu. Setelah mamaking alias makan-mandi-dan packing saatnya kita chaw. Tujuan bang Andre selanjutnya adalah perbatasan Provinsi Lampung-Bengkulu atau tepatnya daerah Nasal sedangkan tujuan gue masih lebih jauh, yaitu daerah Manna, Bengkulu. Jam 09.30 kami meninggalkan Krui, meninggalkan teman baru bahkan keluarga baru. Makasih bang Dodi sekeluarga atas sambutan dan kebaikannya. Semoga mendapat balasan dari Allah SWT. Amin.


Teman Baru. Keluarga Baru.

Sebelum meninggalkan Krui, kami mengisi bensin terlebih dahulu. Kebetulan kalau pagi-pagi gini masih banyak stock premium di SPBU Krui. Kata bang Andre, SPBU ini merupakan SPBU terakhir yang masih menyediakan premium. SPBU berikutnya adalah di Bintuhan, 100 km lebih dari Krui, tapi di sana belum pasti ada stok bensin, jadi gue mengisi penuh tangki bensin di sini saja.

Kalau sebelumnya perjalanan gue ditemani hutan-hutan, kali ini sepanjang perjalanan ditemani laut yang biru nan indah ditambah dengan deburan ombak yang lumayan besar. Bang Andre mengajak gue untuk berhenti di suatu tempat di daerah Tebekak. Katanya ada sebuah batu yang keren dan orang-orang sekitar menyebutnya dengan nama Batu Tihang. Batu tersebut berada di tengah laut yang satu-satunya menjulang tinggi seperti angka satu atau seperti tiang. Tingginya kayak tiang listrik yang nyangkut di atas pohon kelapa. Bener-bener ciamik banget!!!

Dari Krui sampai Bintuhan tidak henti-hentinya pemandangan khas pinggir laut. Hanya saja pas memasuki daerah Lemong, jalanan mengarah ke atas bukit dan kemudian memasuki TNBBS lagi. Dulu, menurut bang Andre, jalur TNBBS seksi Lemong – Merpas ada turunan atau tanjakan yang disebut "Tebing Mayit" akibat banyak puluhan korban yang melepas raganya di situ. Begitu pula jalur TNBBS seksi Sedayu ada jalan yang sangat curam di patok 50 tapi kemudian dirombak menjadi lebih landai akibat banyak kendaraan yang tidak mampu melewati tanjakan tersebut. Kadang ada beberapa kendaraan yang terjun bebas ke dalam jurang, karena rem terkadang tidak mampu menahan curamnya grafitasi. Busteeeepp, Bener-bener angker juga nih jalan!!!

Bang Andre mempunyai tempat pariwisata yang dia kelola sendiri. Gue disuruh mampir di tempat pariwisata tersebut di daerah Nasal setelah perbatasan Lampung-Bengkulu. Namun di tengah perjalanan, bang Andre menghilang entah ke mana. Entah apa dia jauh berada di depan atau tertinggal di belakang. Setelah gue tanya melalui SMS, Dugaan gue benar, ternyata dia lagi makan di warung jauh di belakang gue. Hemm, bener-bener deh!!! Tapi bang Andre sudah memberikan alamat tempat pariwisata tersebut berada yaitu di Pantai Laguna Samudra, Merepass, kecamatan Nasal, kabupaten Kaur, Bengkulu. Di situ dia bilang pemandangannya gak kalah bagus dari sebelum-sebelumnya, tapi tempatnya agak masuk ke dalam dari jalan utama.

Sampai di Kabupaten Kaur. Kabupaten pertama gue di Bengkulu atau kabupaten ke-6 di Sumatera. Gue menurunkan tempo kecepatan mencari tempat yang bang Andre maksud. Setelah cari sana cari sini, tengok sana sini, gak ada ciri-ciri tempat yang dijelaskan bang Andre. Sekian lama mencari namun hasilnya tetep nihil. Udah gak jelas rupa dan bentuknya, akhirnya gue putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Manna. Sebenernya gak enak juga belum pamitan sama bang Andre, tapi mau gimana lagi karena gue harus cepat-cepat sampai di Manna sebelum hari gelap. Makasi bang Andre udah mau nemenin dan bantuin gue sampai sejauh ini. Gue belajar banyak banget dari beliau tentang sebuah perjalanan. 

Selasa, 09 September 2014

Tujuh Danau Terluas

Halaman 6

Pure-pure banyak berdiri di tiap sisi jalan yang gue lewati, lengkap dengan sesajen berupa kembang dalam wadah yang terbuat dari daun kelapa. Desiran ombak yang terdengar keras membuat gue bertanya, apa gue sekarang ada di Bali? Bang Andre mengagetkan gue dari belakang dengan suara klakson motornya. "Ini adalah perkampungan Bali," katanya. Ia juga menjelaskan kalau sebagian warga di Lampung ada yang beretnis Bali. Dari sekitar 7,6 juta penduduk di Lampung, kurang dari 10 persen atau satu juta lebih bersuku Bali, yang tersebar di penjuru Lampung. Termasuk di Way Jambu, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat ini. Ternyata gak cuma orang Jawa saja yang sering transmigrasi ke daerah orang, keturunan dari Bali pun ikut meramaikan program pemerintah tersebut.

Lepas dari Way Jambu, bang Andre ngajak gue mampir ke suatu tempat. Pantai Tanjung Setia namanya. Pantai Tanjung Setia terletak di sepanjang Pantai Pesisir Barat, Lampung. Kalau lagi musim ombak, ketinggian ombaknya bisa mencapai 2 sampai 4 meter dengan panjang sekitar 200 meter. Ombak di sini disebut-sebut sebagai salah satu ombak terbaik di dunia oleh peselancar dari seluruh dunia. Namun pantai ini sendiri belum cukup terkenal seperti Pantai Kuta Bali dan Lombok. Masih perlu perhatian dari pemerintahan setempat. 
Numpang foto doang di Tanjung Setia

Cuaca lagi-lagi tidak mendukung dan kami tiba di pantai sudah sangat senja. Jadi kami tidak bisa menikmati pemandangan sisi pantai. Kami harus segera pergi sebelum tambah gelap dan hujan. Kecepatan motor gue tambah sedikit lebih cepat. Namun, hujan sudah terlanjur turun. Menutupi lubang jalanan dan membanjiri perkampungan sekitar. Terlihat beberapa ruas jalan amblas karena banjir. Gue harus berhati-hati kalo gak mau terperosok ke dalam lubang.

Sampai di Krui sekitar pukul 18.30 WIB. Dua belas jam perjalanan membuat tulang gue pada mengkerut. Hari ini, gue sudah menempuh jarak kurang lebih 344 km. Pakaian semua basah, sepatu apalagi, cariel juga ikutan basah, untung bagian dalam cariel sudah gue lapisi plastik sampah (tresbag) jadi hanya bagian luarnya saja yang basah. Di Krui gue menginap di tempat saudaranya bang Andre. Namanya bang Dodi. Dia tinggal bersama istri, anak dan orang tuanya, jadi agak rame-rame gitu. Perjalanan panjang membuat perut gue lapar. Gue pun diajak ke ruang makan sama bang Dodi dan bang Andre. Pas ngelihat makanannya. Hemm, semua masakan berwarna merah terang. Mungkin kalau pas lagi mati lampu, makanannya bakalan nyala saking merahnya. Glow in the dark gitu. "Beginilah masakan Sumatera, kebanyakan cabenya daripada bahan bakunya," kata Bang Dodi sambil tertawa. Tapi rasanya enak juga lho! Pedasnya itu bikin ketagihan. Gue aja sampe nambah 2 piring #laper.

Karena ini malem minggu, waktunya kita wakuncar-an alias waktu kunjung pacar. Tapi karena gue lupa kalau lagi gak punya pacar, jadi gue ikutan nimbrung sama bang Andre dan keluarganya bang Dodi aja di teras depan rumah #TWEW. Orang-orang di situ pada heran dengan gue. Bukan karena gue ganteng dan penuh kharisma, tapi mereka heran setelah mendengar cerita gue. Dikira gue itu streess, kalau bahasa sananya wong giloo kamu!! Mereka ngatain stres karena gue pergi sendirian dengan bawaan segaban dan naik motor butut pula.

Ini yang menjadi pertanyaan setiap insan yang ada di dunia. Kenapa gue nekad jalan sendirian? Yang ini bukan karena gue egois ataupun autis. Sebenernya gue udah mengajak men-temen, bahkan memposting di Facebook, ngetwitt di twiter (padahal gue lupa paswordnya), terus gue broadcast di Blackbery punya temen, sekali lagi gue tekankan Blackbery PUNYA TEMEN, dan hasilnya N.I.H.I.L.. Mereka cuma bilang: "Maju terus kawan, lanjutkan", "Hati-hati dimakan Macan Sumatera", "Streess lu, geloo, cari mati lu di Sumatera", "Cemungud ea kaka", "Inget nitip oleh-oleh yuaaa", "Salam sama cewe-cewe Sumatera", dan bla bla blabla. Sekarang sudah tau kan kenapa gue jalan sendiri. Mungkin karena perjalanan ini memakan waktu yang tidak sebentar, jadi mereka belum bisa ninggalin kerjaannya, kuliahannya atau mamaknya di rumah. Ini juga pertama kalinya gue jalan sendiri loh!! Pakai motor pula #bangga.

Kami ngobrol ngalor ngidul masalah trip ini. Tentang impian masing-masing. Bang Andre mempunyai impian untuk meng-eksplore 7 danau terluas di Sumatera suatu saat nanti. Ketujuh danau itu di antaranya adalah Danau Ranau di Sumatra Selatan, Danau Kerinci di Jambi, Danau Kembar, Maninjau, dan Singkarak di Sumatra Barat, Danau Toba Di Sumatra Utara, dan Danau Laut Tawar Di Aceh. Lantas gue berpikir, kenapa gue gak mencoba untuk menjelajahi ketujuh danau tersebut. Dan akhirnya gue putuskan bahwa 7 Danau ini masuk ke dalam destinasi utama pengembaraan ini. Makasih bang Andre yang udah menginspirasi gue *Cipok perut bang Andre yang buncit*.

Salah satu danaunya, yaitu danau Ranau, sudah lumayan dekat kalau dari Krui, kurang lebih sekitar 2-3 jam lagi. Gue pun berencana pergi ke sana untuk menjelajahi 7 Danau Terluas di Sumatera. Namun, Tuhan sepertinya belum mengijinkan gue untuk melihat keindahan Danau Ranau. Kata bang Dodi, kemarin baru saja terjadi tanah longsor di jalan menuju ke danau dan memakan korban. Busseetttt!! Nyali gue langsung melempem kayak kerupuk keujanan. Daripada gue tertimbun tanah longsor, mending gue putuskan untuk menunda perjalanan ke Danau Ranau dan langsung menuju tujuan selanjutnya. 

Hari sudah larut malam. Perjalanan baru saja dimulai. Cerita apa lagi yang akan dihadapi esok hari? Sebelum melanjutkan, ada baiknya gue tidur dulu untuk persiapan besok.

Belajar geografi. . .Bertrevelinglah!

Halaman 5

Hujan tiba-tiba turun deras. Warung makan di Desa Sedayu, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, menjadi pilihan untuk menghindari guyuran hujan yang lebat ini. Perjalanan selepas dari Kota Agung menyuguhkan pemandangan yang indah dengan bukit-bukit dan hutan-hutan. Beda banget kayak di Jakarta yang luar biasa macet buangets, penuh dengan ribuan orang dan polusi-polusinya yang cukup bikin nafas gue bengek-bengek. Mungkin kalau di-rongsen pakai sinar X, dalam paru-paru orang Jakarta itu isinya 20% asap motor, 30% asap mobil, 40% asap metromini dan bajaj, 9% asap rokok, dan 1%nya lagi polusi kentut.

Bang Andre sudah tiba di tempat gue berteduh, lengkap dengan baju perang melawan hujan. Gue pun langsung mengeluarkan ponco dalam bagasi motor dan siap untuk menembus derasnya hujan. Lets go!!!

Belum lama gue berjalan, tiba-tiba tanjakan tinggi curam menghadang setelah berbelok ke kanan. Tanjakan tanjakan dan terus tanjakan curam tiada habis rasanya, disertai dengan belokan patah-patah. Motor konsisten di "gigi" satu. Mobil truk besar yang pas berada di depan gue pun susah payah untuk menaklukan tanjakan tersebut, bahkan beberapa kali sempat mau mundur lagi. Gue salip tuh mobil daripada nanti gue di pantatin truk.

Setelah melewati tanjakan yang berliku-liku, kali ini gue benar-benar disuguhi pemandangan hutan rimba yang sangat eksotis. Pas gue baca sebuah papan pinggir jalan, ternyata gue baru saja memasuki kawasan hutan lindung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan atau disingkat TNBBS. Waw, Bukit Barisan!! *Matabelo*. Gue gak percaya ini. Karena yang gue tahu, Bukit Barisan itu adanya di daerah Padang sana, yang ada di pinggir-pinggir jalan (itu mah Rumah Makan Bukit Barisan).

Ternyata eh ternyata, Bukit Barisan itu adalah pegunungan yang terbentang dari Provinsi Lampung sampai Provinsi Aceh loh!!! Panjang banget kan?? Jadi bukitnya itu banyak dan saling nyambung gitu dari bukit satu ke bukit yang lain. Kayak lagi latihan baris berbaris. Sekarang gue tau kenapa dinamakan Bukit Barisan. Gak ke bayang ada berapa bukit yang berbaris dari Lampung sampai di ujung Aceh sana. Amazing Indonesia!

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) adalah sebuah taman nasional yang ditujukan untuk melindungi hutan tropis Pulau Sumatra beserta kekayaan alam hayati yang dimilikinya. TNBBS ini sudah diakui oleh UNESCO juga loh, sebagai warisan dunia. Menurut buku yang gue baca, Bukit Barisan Selatan dinyatakan sebagai Cagar Alam Suaka Margasatwa pada tahun 1935 dan menjadi Taman Nasional pada tahun 1982. Memiliki luas lebih kurang 356.800 Ha. Boleh dibilang Kawasan ini merupakan Taman Nasional terbesar ke–3 di Pulau Sumatera. Membentang dari ujung selatan Provinsi Lampung bagian barat hingga bagian selatan Provinsi Bengkulu.


Ruas jalan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Jalanan di dalam TNBBS ini adem banget, meski tidak terlalu tinggi datarannya. Rindangnya pepohonan menutupi atap jalanan selebar 8 meteran. Jalanan di sini sepertinya masih baru. Terlihat dari jalan yang mulus dan masih terlihat beberapa Pekerja yang masih menyempurnakan jalan. Jalan yang dihiasi hutan lebat ditambah kesunyian hutan. Jarang ada kendaraan lewat. Dan karena sunyi itulah yang bikin gue merinding senut-senut. Takut kalau tiba-tiba ada macan tutul lompat dari balik semak-semak, ngeri kalau tiba-tiba ada gajah menghadang terus numpang nebeng. Gak lucu banget kan!! 

Cukup lama gue mengarungi eksotisnya Bukit Barisan Selatan. Menurut cerita bang Andre, sekitar tahun 1995, kali pertama dia melintas di hutan ini dengan sepeda motor Crystal Suzuki-nya. Dahulu kala, waktu jalannya baru dibuka dan dikupas (kacang kulit kalee dikupas!). Jalan di sini masih berupa tanah merah gitu dan bercampur sisa-sisa metabolisme masih banyak bertebaran di tengah jalan (dibaca tahi gajah). Masih menurut dia, di sini bukan harimau atau macan yang ditakuti pelintas, justru gajah yang kadang-kadang mengamuk lebih dihindari. Untung gue gak ketemu gajah yang numpang nebeng.

Lanjut perjalanan, gue bertemu bang Andre yang sudah menunggu gue di warung sambil megang semangkok mie rebus. Sumpah ini orang kerjanya makan mulu. Kalau gue hitung, udah 3 kali dia makan di perjalanan. Dia cuma bilang, "Habisnya lama banget nungguin lu jalan." Hahahaha, jadi malu. Bener juga sih. Setiap gue ketemu bang Andre di jalan, dia pasti lagi makan dan nyuruh gue untuk jalan duluan. Selang beberapa lama, padahal gue udah duluan tapi akhirnya bisa kesusul lagi. Terus dia nunggu di depan lagi sambil makan, terus gue salip lagi, terus keuber lagi. Ini apa guenya yang lambat, atau dianya yang kesurupan setan Ghost Rider!!!

Jujur, gue masih merasa deg-degan jalan sendirian di Sumatera. gue belum pede melintasi jalan yang notabennya masih banyak hutan-hutan. Apalagi banyak kabar miring di Sumatera yang membuat gue harus menghafal "ayat kursi" biar diberi keselamatan. Beruntung bang Andre mau nemenin gue jalan, walaupun sering ketinggalan jauh. Setidaknya gue gak dilepas begitu aja di Pulau Andalas ini. Sedikit melegakan gue yang belum siap berpetualang sendirian.

Warung ini berada persis di depan SPBU Way Jambu (65 km selepas keluar TNBBS) yang kosong tidak jualan. Sedikit mengkhawatirkan karena SPBU Way Jambu yang berjarak lebih dari 100 Km sejak SPBU Wonosobo dekat Kota Agung ternyata kosong. Ada SPBU Krui sekitar 30 km dari Way Jambu tapi biasanya lebih sering kehabisan stok juga. Hemm, susahnya nyari BBM di SPBU! 

Spanduk bertuliskan Selamat datang di Kabupaten Pesisir Barat sudah banyak menggantung di pinggir-pinggir jalan sejak dari Pemerihan di Kecamatan Bengkunat Belimbing. Dilihat dari tulisan di spanduk, sepertinya kabupaten ini baru saja terbentuk. Ternyata benar, kata bang Andre, kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Lampung Barat dan baru saja disahkan beberapa minggu sebelum gue datang ke sini.

Rupanya, menurut bang Andre yang sudah menjelajah ke daerah ini sejak tahun ‘80an. Jadulnya alias jaman dulunya, 3 kabupaten yang kita lewati (Pesawaran, Pringsewu, dan Tanggamus) masuk ke dalam Kabupaten Lampung Selatan dengan ibukotanya Kalianda, tempat bang Andre tinggal. Tapi sekarang sudah dipisah atau dimekarkan termasuk Kabupaten Pesisir Barat ini. Lampung memang sangat pesat pemekaran kabupatennya. Dari 3 kabupaten dan 1 kota di awal tahun ‘90an, kini telah menjadi 13 Kabupaten dan 2 Kota, dan yang paling baru adalah Kabupaten Pesisir Barat dengan beribukotakan Krui. Tidak terasa sudah 5 kabupaten dan 1 kota gue lewati dalam sehari.

Gue jadi inget tentang pelajaran Geografi di sekolah dulu. Gue di ajarin nama-nama daerah di Indonesia beserta ibukotanya, letak geografisnya, nama-nama gunung dan danau di daerah itu, hasil buminya, nama kepala pemerintahannya, dan ukuran sendal yang di pakai pak lurah setempat. Terus terang nilai gue jelek banget, apalagi kalo pas ditanya ukuran sendal pak lurah, sumpah, otak gue langsung ngeblank. Tapi sekarang, gue hafal nama-nama daerah sampai ke pelosok. Gue tau apa aja yang dimiliki daerah tersebut. Inilah manfaat dari traveling. Dari yang kita gak tahu jadi tempe, dan dari yang kita cinta menjadi lebih cinta akan suatu hal. Tapi tetep aja gue masih ngeblank kalo ditanya soal ukuran sendal pak lurah setempat #zing.  

Kamis, 04 September 2014

Kehilangan Hape

Halaman 4

Terlihat dari kejauhan bang Andre berhenti di sebuah bengkel di Kalianda, ibukotanya Lampung Selatan. Gue pun ikut berhenti di depan bengkel, namun bang Andre malah ngasih kode untuk jalan duluan. Mungkin dia pikir nanti juga bakalan keuber lagi. Secara jalan motor gue udah kayak motor mogok di tarik kura-kura. Lambat banget.

Masih meraba-raba jalanan. Itulah yang gue alamin waktu pertama kali turing pake motor sendirian. Gak kepikiran gue bakal nyasar di Provinsi pertama Sumatera ini. Apalagi pas memasuki Kota Bandar Lampung, 60 km dari Kalianda. Jalanan seketika berubah menjadi "labirin". Simpangnya banyak banget!! Perempatan, pertigaan, jalan satu arah, dan minimnya petunjuk arah untuk menuju tempat selanjutnya (Kota Agung). Apalagi pas di bunderan besar yang isinya tiga buah payung bertingkat dan di bawahnya ada empat patung gajah. Lebih membingungkan lagi, keempat patung gajah tersebut bentuknya sama persis. Keempat gajah tersebut lagi nginjek sebuah bola dengan belalai menunjuk ke 4 arah yang berbeda. "Ini gue harus belok ke arah manaa?"
Bunderan gajah pusing

Gue mencoba memecahkan labirin tersebut dengan menggunakan feeling, Sama seperti pada waktu di Kota Serang yang berujung nyasar. Tapi kali ini harus berhasil. Setelah belok sana belok sini, lurus, terus belok lagi dan akhirnya gue nyasar lagi. Semprul!!! Gue malah muter-muter dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan yang lain. Hemm, emang feeling gue gak bisa diandalkan. GPS pun langsung gue buka. Beruntung gue punya Hape Android yang bisa liat lokasi keberadaan gue di peta. Gue bertemu lagi dengan si Jalinbar Sumatera yang menuju Kota Agung, Kabupaten Tanggamus. 
Sekeluar dari Kota Bandar Lampung, gue memasuki daerah Gedong Tataan yang ternyata ibukota dari Kabupaten Pesawaran. Sudah 2 Kabupaten (Lampung Selatan dan Pesawaran) dan 1 Kota (Bandar Lampung) yang gue lalui di Sumatera ini. Tak banyak yang bisa gue nikmati di kabupaten seluas 1.173,77 km2 ini, selain sebuah Museum Transmigrasi Nasional yang di situlah awalnya koloni dari Jawa ditempatkan oleh Meneer Belanda. 

Belum sempat gue membuka peta, baru 17 km berjalan, gue sudah dihadang lagi oleh tugu perbatasan antar kabupaten. Sebuah gapura berbentuk seperti bambu-bambu besi yang melintang dari kiri ke kanan jalan, membentuk setengah elips dan terdapat lambang mahkota khas Lampung di puncaknya. Awalnya gue kira sudah memasuki Kabupaten Tanggamus, ternyata ini baru memasuki Kabupaten Pringsewu.
Sekilas memang mirip bambu besi


Pringsewu merupakan kabupaten terkecil dan terpadat (Hanya seluas 656 km2 dengan jumlah penduduk 341.086 jiwa). Wilayah ini baru disahkan pada tahun 2008, sebagai pemekaran dari Kabupaten Tanggamus. Namanya mirip seperti rumah makan di Jawa yang mempunyai arti Bambu Seribu. Katanya, memang dulu di sini itu banyak sekali hutan bambu gitu, makanya dinamai Pringsewu. Ada yang aneh dalam penamaan tempat di sini. Gue perhatikan di beberapa papan petunjuk jalan. Banyak sekali nama daerah yang berakhiran “O”, seperti Gadingrejo, Kalirejo, Sukoharjo dan masih banyak lagi nama daerah seperti yang ada di Jawa. Mungkin dulunya daerah ini pernah dijajah sama orang Jawa kali yah? #Sotoy.

Selang 26 km berjalan, tugu perbatasan dengan Kabupaten Tanggamus pun terjelang. Ornamen-ornamen khas Lampung sangat kental sekali menghiasi pintu masuk kabupaten tersebut. Nama kabupaten ini mirip dengan nama sebuah gunung yang gue lihat di jalan, yaitu Gunung Tanggamus. Pengen banget bisa sampai ke puncak gunung yang terkenal di daerah ini, tapi sayang gak ada temen yang mau nemenin gue ke sana.
Ornamen khas Lampung (kadang ada payung tiga tingkat)

Tiba di Kota Agung (42 km dari tugu perbatasan Pringsewu) disambut oleh gapura selamat datang. Kota Agung itu adalah ibukota dari Kabupaten Tanggamus. Lepas dari gapura, jalan menurun cukup curam meliuk-liuk mengular. Cocok bagi yang suka bersepeda-motoran. Gue istirahat sejenak di sebuah SPBU di daerah Wonosobo sambil solat Dzuhur. Jerigen gue isi penuh dengan bensin, soalnya kata bang Andre, SPBU ini adalah yang terakhir dan baru ada lagi nanti di daerah Krui, itu pun kalau masih ada stock bensinnya. Biasanya suka habis dan tutup gitu kalau udah siang begini. Oli motor, gue tambah sedikit karena takut kekeringan. Udah tau kan kalau motor gue ini knalpotnya udah berasap, jadi olinya cepet habis. Repot banget emang, tapi daripada kenapa-kenapa di jalan, lebih baik sedia payung kalau mau hujan daripada sudah basah baru pakai jas hujan #Wealah Lagumu Lek!!!

Kesialan lagi-lagi selalu menghampiri. Namun kali ini bukan gue korbannya. Di perjalanan gue mendapat SMS dari nomer baru. Pas dibuka pesannya, "Gi, ni gw Andre. Hape gw jatoh di jalan, jadi gw balik lagi ke rumah sambil nyari-nyari Hape di jalan. Duluan aja, nanti gw susul. Kalau mau SMS ke sini aja." Busteeepp a.k.a buset!!! Ada aja masalah. Mana hapenya mahal banget. Pantes aja dari tadi gak nyusul-nyusul. Ternyata dia lagi nyari Hape yang jatuh di jalan. Mudah-mudahan ini bukan karena bawaan aura negatif gue, sehingga Hape bang Andre jadi tumbal. *mengheningkan cipta buat Hapenya bang Andre*

Selasa, 02 September 2014

Ada niat ada jalan

Halaman 3

08 Desember 2012.

Subuh-subuh gue sudah harus bangun. Suara truk-truk di jalan cukup menggetarkan tanah yang gue tidurin. Berisik sekali. Semalem gue ditolong seorang temen dari Lampung Selatan. Rumahnya persis di pinggir jalan di depan Rumah Makan yang bertuliskan Bukit Kahuripan. Sebut saja bang Andre. Dia asli orang Sunda sama seperti gue, tapi sudah lama menetap di Lampung dan beristrikan orang Lampung. Gue kenal dengan beliau di salah satu grup di jejaring sosial, namanya yaitu NUSANTARIDE. Grupnya para Biker seluruh Indonesia gitu.
I am redee!!! di halaman rumah bang Andre

Nah kebetulan hari ini dia mau pergi ke perbatasan Lampung-Bengkulu. Jadi gue bisa berangkat bareng karena jalur kita searah. Jujur gue masih takut jalan sendiri. Jalan dari pelabuhan semalem aja udah serem, gelap, jarang ada rumah. Apalagi menurut kabar yang beredar, Sumatera ini banyak "bajing luncat" dan "begal" (sejenis perampokan khas Sumatera).

Motor kami mulai dikeluarkan. "Kuda Besi" yang bang Andre pakai adalah Suzuki Matic Skywave Putih. Sambil manasin motor, kami sarapan dulu.

"Ngomong-ngomong kok di sini jarang ada rumah, Bang?? Gelap banget lagi!!" tanya gue sambil mencicipi nasi goreng buatan istrinya.

"Sebenernya banyak Gi, cuman letaknya agak masuk sedikit ke dalam. Gak persis di pinggiran jalan, soalnya berisik banyak kendaraan lewat 24 jam," bang Andre menaruh piring tanda selesai. "jarang yang mendirikan rumah pas di sisi jalan kecuali rumah makan dan rumah gue. Tapi kalau lu jalan sedikit ke dalam pasti sudah rame dengan perkampungan." Lanjutnya.

"Tetep aja serem lihatnya, bang. Gelap," Bang Andre hanya tertawa melihat ekspresi ketakutan gue.

Saat keberangkatan sudah tiba. Bang Andre cipika-cipiki dulu dengan istrinya. Gue juga pengen cipika-cipiki kayak gitu tapi udah keburu dijewer bang Andre.
"Engine ON. Waktunya BERANGCUUTT."

Jalur yang kami pilih untuk menuju Bengkulu adalah Jalur Lintas Barat (Jalinbar) Sumatera. kalau dari Bandar Lampung, kita mengambil jalur ke Kota Agung-Krui dan Bengkulu. Sebenarnya ada tiga ruas jalan untuk bisa mencapai Titik Terujung Sabang. Yaitu Jalinbar (jalur lintas barat), Jalinteng (jalur lintas tengah) dan Jalintim (jalur lintas timur) yang tiap-tiap jalur mempunyai tantangan dan keindahannya masing-masing. Dan rencananya pulang dari Sabang nanti gue akan mencoba 2 jalur sisanya. 

Belum lama berangkat, bang Andre sudah jauh melaju di depan. Kayak motor diangkut pake Buroq. Cepet banget. Gue sudah mencoba menarik gas sekuat mungkin tapi gak ke kejar juga. Wajar lah, karena motor gue kan sedang bermasalah, sampai-sampai teman gue bahkan montir Suzuki pun meragukan motor ini. Kecepatan maksimal motor cuma bisa  lari 60 km/jam, lebih dari itu si motor udah gemeter kayak kena "ayan" dan knalpot udah mulai ngeluarin asap pekat.

Sehari sebelum keberangkatan gue nyaris gak bisa melakukan perjalanan. Duit gak ada, motor gak layak pakai, dan orangnya gak layak hidup. Lengkap semua. Di mulai waktu gue mau nagih hutang ke temen gue yang ada di Kampus. Gue kenalin nama temen gue, Aceng. Beliau membuka usaha Fotocopyan di kampus gitu. Lapaknya bertempat pas di bawah anak tangga yang amat sangat sempit kejepit sampai sinyal Handphone pun jarang dapet kalau lagi nangkring di situ. Hidupnya terbilang amat sangat miris banget, bisa-bisa nangis bebusah kalau denger cerita hidupnya, apalagi ngelihat tampangnya yang di bawah garis kegantengan *Viss Ceng*.

Tapi gue bukan rentenir atau depkolektor loh. Kita flashback sebentar. Baheula, sekitar 2 bulan yang lalu, beliau meminjam uang untuk nambahin beli mesin fotocopyan yang baru karena alat yang dulu rusak parah jadi udah gak memungkinkan untuk dipakai. Parahnya, Kepala Jurusan sudah meng-ultimatum kalau dalam waktu dekat gak bener-bener itu mesin fotocopy, beliau disuruh angkat kaki dari kampus karena sudah gak ada gunanya lagi tinggal di sini. Miris banget kan!

Bagaikan ibu peri turun dari pohon asem, gue pun meminjamkan beliau uang karena cuma dari mesin fotocopy tersebut beliau bisa hidup sampai sekarang (bae banget yah gue? #Preeet). Tapi dengan satu syarat, bulan Desember besok harus sudah diganti duitnya karena mau gue pakai buat biaya keliling Sumatera. Nah, pas gue menagih janji beliau.

Dengan muka lesu abis dikejar-kejar bencong dia berkata: "Sory mass berooo! Duitnya belum ada kalau sekarang. Hari Kamis balik lagi aja ke sini."

"Okeh, santai aja, Ceng!!" jawab gue dengan sedikit kecewa bercampur enek. Gue pun langsung kebelet pipis.

Singkat cerita. Dua hari kemudian, Kamis 06 Desember 2012 atau sehari sebelum keberangkatan. Gue balik lagi ke kampus untuk nagih duit dan setelah itu gue mau langsung servis motor. Sesampainya di TKP. 

"Wah telat lu brooo! duitnya udah diambil sama si Dadan kemaren." (Oia, selain minjem duit ke gue, beliau juga minjem sama temen-temen gue yang lain). 

CETAARRR. PARAAHH. Gimana ini?? Padahal untuk biaya ke Sumatera, gue ngandelin duit dari beliau. Duitnya lumayan loh 700 ribu, bisa buat beli bensin dua drum satu gayung. Asyeeemm! Setelah gue ngomong sambil berlinang air mata, beliau cuma bisa ngasih duit 250 ribu doang. Namun gue minta dengan amat sangat untuk ditransfer kalau duitnya sudah ada.

Kesialan gak sampai di situ aja. Di perjalanan di daerah Cipulir, gue mampir di bengkel resmi Suzuki untuk servis motor. Gue lihat daftar harga-harga paket Servis Besar. Hemm, tadinya gue berniat untuk merombak besar-besaran motor gue, tapi setelah melihat harganya yang di atas ratusan ribu, gue putuskan untuk melakukan pembedahan kecil alias servis kecil yang cuma ngabisin biaya 25 ribu plus tambah oli jadi 50 ribu perak. Apa boleh buat, karena melihat dompet yang isinya cuma duit 250 ribu dari si Aceng yang super baik itu dan KTP yang gak mungkin banget kalau gue gadein ke Suzuki.
Montir pun membawa si motor masuk ke ruang pembedahan. "Bang, kalau motor ini dibawa turing ke Aceh kira-kira bisa gak yah??" tanya gue sambil nyedot teh botol yang dikasih secara cuma-cuma.

"Wah, resikonya gede banget Bos. Seher motor udah bocor, AKI juga udah soak, kalau dipaksa jalan ke Aceh resikonya mogok di jalan," jawab Si Montir sambil terus mengotak-atik mesin motor.

". . . . . ." hening.

"Kalau mau jalan, motornya harus diservis besar dulu, ganti seher dan AKI. Kira-kira ngabisin biaya 500 ribu lebih lah," lanjut Si Montir menjelaskan.

"$@^$&!%*!%." nelen botol.

Gak mungkin. Gue aja cuma megang duit 250 ribu ditambah duit di ATM 300 ribu. Itu juga gak bisa diambil semua. Kalau duitnya dipake buat benerin motor, bisa-bisa gue gagal berangkat ke Sumatera. Badai apa lagi yang Engkau berikan kepada ku, Tuhan? kenapa begitu bertubi-tubi #backsound suara halilintar. Gue cuma bisa senyum sambil nangis nanah dalam hati.

Emang sih motor gue Knalpotnya udah ngebul kayak Bajaj di Jakarta yang di depannya ada Metromini. Kata montirnya, kalau knalpotnya ngebul, oli dalam mesin akan cepat habis. Motor gue juga AKInya udah melempem, kalau nyalain lampu depan motor persis kayak lampu WC yang 5 Watt.

Lengkap sudah penderitaan. Duit kurang, motor gak layak jalan, mana besok gue udah mau berangkat. Sepanjang perjalanan pulang, gue terus berpikir gimana caranya mengatasi masalah ini. Minta duit ke orang tua kayaknya gak mungkin, jalan sambil ngamen juga gak mungkin, secara sudah gak bisa main alat musik, suara gue juga terlalu indah kalau dibandingin sama suara kodok di sawah. Mau ngerampok Bank juga diharamkan sama guru ngaji gue. Hadew!!!

Pikiran ini terus melayang-layang mencari sebutir cahaya kemilau. Namun tiba-tiba, dalam pikiran terlintas kata "Budi". BUDI??? Whats is Budi?? Budi is Whats?? Oke, gue jelasin sedikit. Budi itu temen. Temen seperjalanan gue. Kalau ke mana-mana kita selalu bareng. Sekolah SMA bareng, kuliah juga sekelas, kerja bareng, naik motor juga boncengan, naik gunung bareng, ngebolang bareng, jomblo bareng, dan mandi pun bareng. Bisa dibilang kita itu SoulMate. Gue SOULnya dan Budi MATEnya *pamerin baju couple*. Tadinya gue berniat pergi ke Sumatera sama si Budi kecil, tapi dia harus melanjutkan kuliah S1-nya dulu.

Malamnya gue langsung tarik gas ke rumahnya, kebetulan rumahnya gak terlalu jauh dari rumah gue, sekitaran 7 km. Sampai di rumahnya, gue langsung menceritakan kejadian naas hari ini. Dia menyarankan untuk diundur jadwal keberangkatannya. Tapi niat gue udah bulet. Jadwal udah dibuat. Janji tetaplah janji, harus dilaksanakan, dan gue termasuk orang yang anti mengingkari janji #aish.

"Berapa duit yang lu butuh??" tanyanya.

Yes, akhirnya!! Tapi berapa yah? Mmmm, minjem satu juta kegedean, susah nanti balikinnya. Seratus ribu juga terlalu kecil, cuma bisa sampai Lampung doang nanti. Ya sudah gue putuskan.

"500 ribu aja, Cu!"

"Ya udah kita ke ATM dulu," jawabnya.

Kita berdua langsung pergi ke salah satu Mini Market yang ada ATMnya gitu. Beberapa menit berselang, dia keluar dan ngasih duit beserta bungkusan plastik putih yang ternyata isinya 3 buah bungkus roti ukuran besar dan minuman dalam botol *Hiks*. Jadi merinding dan terharu #Kecup bibir  Budiman Wijaya. Makasih cuk, You My Best Friends Until Whenever! 

"Dimana ada niat yang kuat, lingkungan di sekelilingmu pasti akan mendukung sepenuhnya."

Perkenalkan, Nami Abdi. . . . .

Salam Silaturahmi


Gegara mudik sebulan lebih kemaren, gue jadi telat posting kelanjutan perjalanan gue kesasar di Sumatera. Maklum, di kampung gue susah sinyal internet. Okeh para pemirsah di mana pun anda berada, kita lanjut lagi kisah perjalanan awut-awutan seorang travel-musafir. Tapi sebelum itu ada baiknya kalo kita berkenalan dulu. Seperti kata pepatah, "Tak kenal maka tak sayang". Bahkan dalam hadist pun tertulis, "Anna Dhofatul Minal Iman" yang artinya "kebersihan sebagian dari iman" (bener gak sih?).

Karena gue seorang Muslim, gue ucapkan Assalamualaikum Wr.Wb. Nama gue Yogie Agusubarnas. Gue asli Suku Sunda. Mamak-Bapak gue berasal dari Subang, Jawa Barat dan kebetulan mereka dari RT yang sama. Gue dilahirkan di Subang 11 Agustus 1989. Gak tua-tua banget kan?? Gue tinggal di sebuah dusun kecil di daerah Subang yang bernama Kampung Caringin, Desa Cikaum Timur, Kecamatan Cikaum. Kalau yang butuh Alamat Email dan Facebook gue yaitu Yogie_agusubarnas@yahoo.co.id, dan kalau twitter @giecobain, jangan lupa di follow eaa! karena susah banget bikinnya, gue perlu rapat tahunan dulu dengan keluarga besar.

Impian itu berawal dari mimpi. Impian gue sih sepele. Mudah-mudahan Tuhan bisa mengabulkan impian gue untuk mengelilingi Indonesia dan juga Dunia. Amin. Gak muluk-muluk kan? Yup, impian itu sudah ada dari waktu gue masih kecil. Yogi Kecil, dulu sering membayangkan bisa berjalan-jalan di Pantai Bali sambil ngelihat bule "selonjoran" (dibaca: gak pake beha) #masih kecil aja udah mikirin yang begituan, terus Yogi kecil juga sering membayangkan bisa menari-nari bersama Orang Papua sambil muterin api unggun, bisa loncatin Batu Nias (tapi kalau ada, yang ukuran mini aja), bisa maen perang-perangan bola salju di luar negeri sama Om Sinterkelas, bisa manjat Tower Eifell layaknya ngambil layangan nyangkut di menara sutet, bisa maen layangan di Piramida sama Mas Mummi, bisa maen petak umpet di Colosium Roma, bisa maen tamiya di Tembok Besar Cina dan terakhir bisa naek haji bareng orang sekampung ke Makkah. Amin. Bayangan itu semua sering kali muncul kalau gue liat tukang ager-ager lewat di depan rumah (kayaknya gak nyambung).
Impian kosong. Mungkin itu yang ada di benak gue dulu. Mana mungkin bisa gue keliling Indonesia! gak mungkin buanget bisa menapaki tiap penjuru Indonesia!!! gue nyadar, gue hanyalah orang kampung, orang desa, yang bagi warga desa, impian semacam itu masih terlihat "asing", omong kosong, gak ada "faedah", ngabis-ngabisin duit, dan "ngapain juga lu pergi jauh-jauh? mending di rumah, cari duit terus tidur", begitulah penggalan kata-kata dari mereka. Lantas gue termakan omongan mereka. "Menenggelamkan" impian dan duduk di pojokan jadi anak rumahan.

Namun seiring berjalannya waktu, semua itu sedikit lebih bercahaya ketika gue masuk organisasi Pecinta Alam di kampus. Pelan tapi pasti gue bisa menyentuh impian itu. Sedikit demi sedikit impian itu mulai "mengapung" lagi di dalam benak gue. Puncaknya pada saat gue lulus kuliah dan bekerja sebagai enumerator atau pencari data, gue berhasil mencolek sedikit impian itu. Gue dikirim ke setiap pelosok Indonesia, mulai dari Pontianak (Kalbar), Mamasa (Sulbar), Pekanbaru (Riau), Solok (Sumbar), OKI & OI (Sumsel), Sumbawa (NTB), Timur Tengah Selatan yang ada di pulau Kupang (NTT), dan sebagian daerah pulau Jawa. Lantas gue terkena "racun" yang sangat pekat, yang belum ada obatnya di apotek terdekat. Gue jadi "kecanduan" jalan-jalan. Gue kena racun berdarmawisata.

Gue semakin percaya kalau impian gue bukanlah isapan jempol belaka. Impian itu sudah bisa gue genggam sekarang. Impian yang menurut orang kampung masih sangat "tabu" dan tidak ada gunanya. Sekarang, gue ingin melanjutkan untuk menggenggam impian itu, bahkan ingin menginjakan kaki sepenuhnya pada impian gue.


"Perjalanan itu Gue yang nyiptain, BUKAN Mereka"